Yuk, Mengenali Depresi dan Cara Pencegahannya

 

Kenali Depresi dan Pencegahannya

Jakarta Barat-Universitas Tarumanegara kembali menggelar webinar via zoom dengan mengangkat topik “Mengenali Depresi dan Pencegahannya”. Acara ini dilaksanakan pada hari Minggu, 6 Desember 2020 dimulai pukul 15.00-17.00 WIB. Webinar kali ini bersifat terbuka untuk umum. Banyak peserta yang kebanyakan masih mahasiswa. Webinar ini dipandu oleh Bapak Reza Fahlevi, S.K.M., M.M., M.Psi., Psikolog yang juga merupakan Foundeer Jiwakoe Consulting. Kemudian untuk pembicara dalam webinar kali ini ialah Ibu Debora Basaria, M.Psi., Psikolog, yang juga merupakan dosen di Universitas Tarumanegara. Kemudian pembicara yang kedua ialah Laksmana Mada Fadillah Saragih, S.Psi yang juga merupakan member di Into The Light Indonesia (Task Force Suicide Prevention).

Pada sesi yang pertama diisi oleh  Ibu Debora. Beliau menyampaikan tentang pemaparan hasil penelitian yang ia lakukan bersama timnya tentang depresi. Kondisi depresi diketahui merupakan penyebab utama terjadinya perilaku tindakan bunuh diri dan menjadi urutan ke-6 penyebab kematian utama di negara maju, salah satunya di Amerika Serikat. Menurut Gintner diperkirakan 1 dar 4 orang mengalami episode depresi dalam kehidupannya. 

Di Indonesia, berdasarkan Data Riskesdas tahun 2007, prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi adalah sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa. Ini berarti dengan jumlah populasi orang dewasa Indonesua  lebih kurang 150.000.000 ada 1.740.000 orang yang saat ini mengalami gangguan mental emosional. Tadinya kita mengira 11,6% itu kecil, namun ketika disajikan dalam jumlah orang, ternyata tak bisa dikatakan sedikit.

Menurut WHO, depresi merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan suasana hati yang tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, mereka kurang energi, perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan makan atau tidur, dan konsentrasi yang rendah. Depresi dapat dialami siapa saja, tanpa mengenal umur.

Banyak orang yang sering melakukan self diagnose atau mendiagnosi dirinya sendiri dengan mencari gejala-gejala depresi di internet. Tapi hal ini sangat ditegaskan oleh ibu Debora dengan mengatakan, “Jangan membuat judgement yang prematur, jangan langsung memutuskan kalau aku ini mengalami depresi, kita harus menemu kenali apa itu depresi dan apa saja gejala yang mengindikasi kalau kita memang sedang depresi, kita harus datang ke ahlinya agar tak salah kaprah dalam mengartikan suatu keadaan.”

Lalu beliau memaparkan tentang kriteria diagostik untuk gangguan depresi Mayor menurut Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental IV-TR dari American Psychiatric Association (2000) yang mencakup:

1.       Setidaknya satu dari tiga suasana hati tidak norma berikut yang secara signifikan mengganggu kehidupan seseorang:

a. Suasana hati depresi yang tidak normal hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya selama 2 minggu.

b. Kehilangan semua minat dan kesenangan yang tidak normal hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya selama 2 minggu.

c. Jika berusia 18 tahun atau lebih muda, suasana hati yang mudah tersinggung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya selama 2 minggu.

2.       Setidaknya lima dari gejala berikut ini muncul selama periode depresi 2 minggu yang sama.

a. Suasana hati depresi yang tidak normal (atau suasana hati yang mudah tersinggung jika penderita adalah anak kecil atau remaja).

b. Kehilangan semua minat dan rasa senang secara tidak normal.

c. Gangguan nafsu makan atau berat badan:

i.   Penurunan berat badan (saat tidak diet) atau penurunan nafsu makan yang tidak normal.

ii.  Peningkatan berat badan atau peningkatan nafsu makan yang tidak normal.

d. Gangguan tidur, insomnia atau hipersomnia yang tidak normal.

e. Gangguan aktivitas, baik agitasi maupun perlambatan yang tidak normal (bisa diamati oleh orang lain).

f. Rasa lelah atau kehilangan energi yang tidak normal.

g. Rasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri yang tidak normal.

h. Buruknya konsentrasi atau ketidakpastian yang tidak normal.

i. Pikiran yang tidak normal tentang kematian (tidak hanya takut mati).

Menurut Santrock (2006), berikut merupakan factor penyebab depresi, di antaranya:

a. Faktor genetik, individu yang diketahui berasal dari keluarga yang pernah mengalami depresi berat, beresiko lebih besar mengaami gangguan depresi dari pada masyarakat lain pada umumnya.

b. Faktor unsur kimia otak dan tubuh, beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi diri individu. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. 

c. Faktor usia, penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal tersebut dapat terjadi karena pada masa usia ini, individu mengalami banyak tahap atau tugas perkembangan yang penting.

d. Faktor gender, wanita dua kali lebih sering terdiagnosa mendrita depresi daripada laki-laki. Namun bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi, bisa jadi karena wanita lebih sering mengakui adanya depresi daripada laki-laki dan dokter lebih dapat mengenali depresi pada wanita. 

e. Faktor gaya hidup. Kebiasaan atau gaya hidup yang tidak sehat dapat berdampak pada penyakit seperti jangtung yang dapat memicu kecemasan dan depresi.

f. Faktor stress. Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stress berat yang lain dianggap menyebabkan depresi. 

Selanjutnya disebutkan bahwa gejala spesifik dari depresi adalah anhedonia dan low positive affect dan gejala spesifik dari kecemasan adalah psychological hyperarousal. Mood And Anxiety Symptom Questionnaire (MSAQ) dibuat dengan tripartite model. MASQ ini diketahui sudah banyak digunakan dalam berbagai penelitian. MASQ terdiri dari 90 butir dengan enam dimensi yaitu: (a) general distress mixed, (b) general distress anxiety, (c) general distress depression, (d) anxious arousal, (e) loss of interest, dan (f) high positive affect.

Lalu dikembangkanlah pengukuran depresi dengan menggunakan MASQ-Anhedonic Depression Scale (MASQ-AD). Skala ini terdiri dari delapan butir dimensi loss of interest dan 14 butir reserved-keyed yang dipilih dari beberapa dimensi high positive affect. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa MASQ-AD ini memiliki fungsi yang baik sebagai alat screening terkait dengan gangguan depresi.

Pada sesi yang kedua diisi oleh Laksmana, atau yang akrab dipanggil Mas Aksa. Ia menyampaikan materinya yaitu tentang pencegahan kasus bunuh diri. Komunitas Into The Light yang menghimpunnya bersama yang lain ini dibentuk pada tahun 2013 tepatnya pada bulan Mei, komunitas tersebut terfokus pada pencegahan bunuh diri dan kesadaran akan kesehatan mental.

Pencegahan akan perilaku bunuh diri dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu di antaranya: primary prevention, crisis intervention, dan postvention. Primary prevention dapat dilakukan dengan cara mengembangkan program pendidikan terkait dengan pencegahan bunuh diri serta dengan melakukan kerjasama  dengan sektor lain untuk tujuan advokasi dan kampanye pencegahan bunuh diri. Crisis intervention dilakukan dengan mengembangkan pemberdayaan program untuk komunitas yang memiliki masalah seperti keinginan untuk bunuh diri dan masalah kesehatan mental, serta bekerjasama dengan sektor lain dengan program perantaraan yang terkait dengan pencegahan bunuh diri dan pemberdayaan kesehatan mental. Lalu untuk postvention dapat dilakukan dengan mengembangkan program  pemberdayaan untuk memfasilitasi penyembuhan individu dari kesedihan setelah kehilangan orang yang meninggalkannya karena bunuh diri.

Untuk sesi selanjutnya adalah sesi tanya jawab yang tak kalah menarik oleh para peserta kepada para pembicara. Banyak yang mengeluhkan tentang masalah kesehatan mental yang pernah dialami. Dari para pembicara juga menjawab pertanyaan para peserta denga jelas dan lengkap sehingga pengetahuan pun semakin bertambah.

Dari webinar kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa kita jangan mudah mendiagnosis diri kita sendiri hanya dengan bermodal searching di internet. Untuk mengindikasi bahwa kita depresi, ada kriterianya, yang masing-masing kriteria itu berlangsung selama 2 minggu berturut-turut. Jadi kalau gejala-gejala itu hanya berlangsung beberapa hari saja, itu belum memenuhi kriteria seseorang yang mengalami depresi. Pencegahan akan perilaku bunuh diri dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu primary prevention, crisis intervention, dan postvention.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrol Smartphone Anak dengan Aplikasi Google Family Link

Here We Go! Setting Your Goal in 2021