Anak Milenial Itu Harus Pandai Mengelola Keuangan, Guys!!!
Milenial Melek Finansial
Yogyakarta-UKKI Al-Mujadid
2020 UNY Kampus Wates menggelar webinar kewirasahaan dengan mengangkat topik
Milenial Melek Finansial “Investasi Dunia Investasi Akhirat”, yang dilaksanakan
pada hari Sabtu, 26 Desember 2020 pukul 09.00 – 11.00 WIB. Webinar ini bersifat
untuk umum. Webinar tersebut dimoderatori oleh Icha Choirunnisa yang juga
merupakan staff Sosjar UKKI. Dan untuk pemateri pada webinar kali ini adalah
Ibu Desy Rachmawati yang merupakan Founder & Owner CV. Agro Sukses Abadi
(Eka Farm). Sambutan diberikan oleh Muhammad Syaiful selaku ketua UKKI
Al-Mujadid.
Pada sesi yang
pertama yaitu pemaparan materi oleh Ibu Desy. Beliau memaparkan mengenai
bagaimana cara mengelola keuangan agar lebih bisa dimanfaatkan dengan baik.
“Sebagai manusia kita punya kecenderungan terhadap harta, yang di sini harta
itu lebih sering dikaitkan dengan uang,” tutur beliau.
Harta yang
dikaitkan dengan uang ini merupakan penggerak diri atau alasan kita untuk
bergerak. Tentunya bisa saja bergerak ke arah yang baik dan bisa juga mengarah
pada hal yang buruk. Allah SWT menguji kita dengan 3 perkara yaitu harta, tahta
dan wanita. Harta termasuk ke dalam ujian di hidup kita. Manusia cenderung
ingin untuk menguasari harta (uang). Ingin memiliki harta tentunya harus dengan
cara yang baik dalam mengelola dan mengeluarkannya.
Mengapa kita harus
melek finansial? Ada beberapa hal yang melandasinya, di antaranya sebagai
berikut: kemandirian, pengeluaran yang pasti sementara pemasukan belum pasti,
tidak ingin merepotkan generasi setelah kita, hanya yang kuar yang bisa
menolong yang lemah, serta sebaik-baik harta adalah di tangan orang yang
sholeh.
Terdapat tiga
jenis orang berdasar dengan cashflow. Yang pertama, orang dengan jenis kelewat
lancar. Jenis ini adalah orang yang ketika punya uang, semisal setelah menerima
gaji ia mengguanakan semua uangnya tanpa menyisihkan untuk ditabung. Di tanggal
1 ia foya-foya, kemudian baru tanggal 15 ia sudah mencari hutang hanya untuk
sekedar makan. Jenis yang kedua adalah keliatan kaya, orang dengan jenis ini
cenderung memaksakan diri, ketika menginginkan sesuatu ia harus mendapatkannya,
dan biasanya ia berhutang untuk mendapatkan sesuatu itu. Jenis yang ketiga
adalah memang orang kaya, jenis orang yang masuk kategori ini adalah memang dia
orang kaya, ia memiliki dasar finansial yang bagus dengan mengelola harta
mereka menjadi aset atau investasi.
“Bukan kita yang
bekerja untuk uang, tetapi uang yang bekerja untuk kita,” tutur Ibu Desy.
Maksudnya adalah pada akhirnya nanti saat kita sudah menua, kita tak lagi
bekerja untuk mendapatkan uang, namun uang yang akan mengalir dengan sendirinya
datang kepada kita tanpa kita bekerja, yaitu dengan kita menginvestasikan harta
kita. Kendaraan seperti misalnya mobil, bukanlah aset produktif, justru mobil
malah banyak sekali biaya yang harus dipakai untuk membayar pajaknya, biaya
perwatannya dan sebagainya. Aset produktif meliputi properti, tanah, dan
bisnis, yang tiap tahun nilainya bertambah.
Ruang lingkup
finansial meliputi Income dan Outcome. Income/pendapatan terdiri dari Active
Income dan Passive Income. Active Income adalah pendapatan dari pekerjaan kita,
semisal sebagai PNS, karyawan swasta, wirausaha dan lain sebagainya. Kemudian
Passive Income adalah pendapatan dari hasil dividen atau bagi hasil dari free
cash perusahaan. Outcome/pengeluaran terdiri dari ZISWAF (Zakat, Infaq,
Shodaqah, Wakaf), bayar hutang/cicilan, menabung, investasi, dan belanja.
Ibu Desy juga
mengatakan bahwa kita harus bangun Active Income dulu, baru bangun Passive
Income. Berikutnya dipaparkan juga mengenai alur investasi. Yang pertama, kita
harus memastikan active income yang kita miliki itu cukup. Kedua, kita harus
menabung, menabung dapat berupa uang cash, emas, maupun saham. Ketika, kita
investasikan sebagian harta kita seperti missal dengan membuka bisnis sendiri
maupun bisnis dengan orang lain, trading saham, saham, reksadana, obligasi, property
produktif, growth property, dll. Lalu dari investasi tersebut dihasilkanlah
passive income. Passive income ini juga harus di rencanakan penggunaannya untuk
apa saja, misal untuk pensiun, wakaf, atau yang lainnya.
Pada sesi
selanjutnya adalah sesi diskusi atau tanya jawab yang begitu bnyak sekali
peserta yang memberika pertanyaan sekaligus curhatnya yang kebanyakan adalah
seorang mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaannya pun cukup menarik, dan pemateri
juga menjawabnya dengan jelas sehingga ilmu yang dapat kita serap semakin
banyak lagi.
Dari webinar kali
ini dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus pandai-pandai mengelola keuangan
kita, pemasukan dan pengeluaran harus seimbang. Jangan biarkan sifat foya-foya
ada dalam diri kita. Kita harus bisa memastikan Active Income kita cukup,
sebelum membangun Passive Income. Alokasikan keuangan dengan baik, dari untuk
kegiatan sosial, bayar hutang, menabung, investasi dan juga belanja harus punya
porsi yang sesuai. Insyaallah apa yang telah kita kerjakan dan usahakan dengan
baik, akan berbuah manis. Aaamiin.


Komentar
Posting Komentar